Validasi Emosi, Bukan Berarti Selalu Menuruti Anak

“Katanya validasi emosi itu penting dalam pengasuhan… Memangnya iya?”

Validasi emosi memang menjadi salah satu bagian penting dalam membangun hubungan yang positif antara orang tua dan anak. Namun, validasi emosi juga sering kali disalahpahami bahwa orang tua harus selalu menyetujui keinginan anak. Ada juga yang khawatir bahwa terlalu banyak memvalidasi justru akan membuat anak menjadi manja atau sulit menerima batasan.

Padahal, validasi emosi berkaitan dengan bagaimana orang tua hadir, melihat, dan mengakui perasaan yang sedang dialami anak, tanpa buru-buru menghakimi, menyalahkan, atau mencoba menghilangkan perasaan tersebut. Dengan kata lain, kita bisa menerima perasaan anak tanpa selalu menyetujui perilakunya atau memenuhi keinginannya.

Mengapa anak membutuhkan validasi?

Anak masih berada dalam proses belajar mengenali dan memahami berbagai pengalaman yang terjadi di dalam dirinya. Ketika merasa kecewa, misalnya, anak mungkin belum bisa mengatakan, “Aku kecewa karena ekspektasiku tidak sesuai dengan kenyataan.” Yang muncul mungkin justru tangisan, teriakan, merengek, atau bahkan perilaku yang sulit dipahami oleh orang dewasa.

Pada situasi seperti ini, respons orang tua menjadi salah satu pengalaman belajar bagi anak. Ketika anak berulang kali mendapatkan respons seperti, “Sudah, jangan nangis,” “Masa begitu saja marah?” atau “Nggak boleh sedih,” anak dapat menangkap pesan bahwa emosi tertentu tidak seharusnya muncul atau tidak nyaman untuk dibicarakan.

Sebaliknya, ketika orang tua mencoba memahami apa yang sedang terjadi, anak mendapatkan pengalaman bahwa perasaannya dapat diterima dan dibicarakan dengan aman.

Memahami bahwa validasi bukan berarti menuruti

Salah satu hal yang paling penting dalam menerapkan validasi emosi adalah memahami bahwa perasaan dan perilaku merupakan dua hal yang berbeda.

Anak boleh marah, tetapi bukan berarti ia boleh memukul. Anak boleh kecewa ketika keinginannya tidak terpenuhi, tetapi bukan berarti ia boleh merusak barang. Anak boleh merasa takut mencoba sesuatu yang baru, tetapi bukan berarti setiap situasi yang membuatnya takut harus selalu dihindari. Karena itu, validasi justru dapat berjalan berdampingan dengan batasan.

Bayangkan seorang anak yang sudah sangat bersemangat ingin pergi bermain ke taman. Namun, ketika waktunya tiba, hujan turun dengan deras dan disertai petir. Anak kemudian menangis karena rencana bermainnya batal.

Respons pertama yang mungkin muncul adalah, “Jangan nangis, cuma gara-gara hujan.” Padahal, bagi anak, bukan sekadar hujannya yang membuat sedih. Ada ekspektasi yang sudah terbentuk sejak sebelumnya. Ia mungkin sudah membayangkan akan bermain di taman, berlari, atau bertemu temannya. Ketika rencana tersebut tiba-tiba berubah, rasa kecewa yang muncul tentu nyata baginya.

Orang tua dapat merespons dengan mengatakan, “Kamu kecewa dan sedih banget ya, karena tadi sudah semangat mau main ke taman.”

Setelah perasaan anak diakui, batasan tetap dapat disampaikan dengan jelas. Misalnya, “Hari ini hujannya deras banget dan ada petirnya, jadi nggak aman kalau kita main ke taman.”

Kemudian, daripada berhenti pada kata “tidak”, orang tua dapat membantu anak menemukan pilihan lain. “Nanti kalau hujannya sudah reda, kita baru pergi ke taman, ya. Sekarang kita main di rumah dulu, yuk. Kamu mau bikin rumah-rumahan dari bantal atau main puzzle favoritmu?”

Dalam satu percakapan sederhana tersebut, sebenarnya ada tiga hal yang sedang dilakukan orang tua. Pertama, mengakui perasaan anak. Kedua, tetap menyampaikan batasan. Ketiga, membantu anak menemukan alternatif.

A–C–T: Cara sederhana mempraktikkan validasi emosi

A–C–T adalah: (1) Acknowledge the Feeling, (2) Communicate the Limit, dan (3) Target an Alternative.

Pada tahap Acknowledge the Feeling, orang tua mencoba terlebih dahulu mengenali dan mengakui emosi anak. Kita tidak harus selalu langsung mengetahui dengan tepat apa yang dirasakan anak. Kita bisa menggunakan kalimat yang sifatnya membuka ruang, seperti, “Kamu kelihatannya kecewa, ya?” atau “Kayaknya kamu lagi marah banget.” Jika belum mengetahui penyebabnya, kita juga dapat mengatakan, “Mama lihat kamu lagi sedih. Mau cerita?”

Setelah perasaan anak diakui, orang tua dapat masuk ke tahap Communicate the Limit. Di sini, orang tua tetap memiliki peran untuk menetapkan batasan. Validasi bukan berarti semua perilaku anak boleh dilakukan.

Misalnya ketika anak marah karena mainannya diambil oleh kakaknya, orang tua bisa mengatakan, “Mama tahu kamu marah karena Kakak mengambil mainanmu. Kamu boleh marah, tapi kamu nggak boleh memukul Kakak.”

Perasaan anak diterima, tetapi perilaku yang tidak aman tetap diberikan batasan.

Kemudian, orang tua dapat membantu anak mencari pilihan lain melalui tahap Target an Alternative. Anak tidak hanya diberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan, tetapi juga dibantu memahami apa yang bisa dilakukan sebagai gantinya.

“Kalau kamu masih marah, kamu bisa bilang ke Kakak, ‘Aku masih mau main.’ Atau “kalau kamu butuh waktu sendiri, kamu bisa bilang ke Mama.”

Dengan cara ini, anak perlahan belajar bahwa ketika menghadapi emosi yang kuat, ada pilihan perilaku lain yang dapat dilakukan.

Validasi bukan hanya tentang apa yang kita katakan

Ada satu hal lain yang tidak kalah penting: anak tidak hanya mendengar kata-kata kita, tetapi juga membaca cara kita hadir.

Kita bisa mengatakan, “Mama ngerti kamu sedih,” tetapi jika mengatakannya sambil terus melihat handphone atau mengerjakan pekerjaan lain, anak mungkin tidak mendapatkan pengalaman yang sama seperti ketika orang tua benar-benar berhenti sejenak dan memberikan perhatian.

Ketika situasi memungkinkan, cobalah untuk memberikan perhatian penuh pada anak. Tatap anak ketika berbicara, letakkan aktivitas lain sejenak, gunakan nada suara yang tenang, dan tunjukkan melalui bahasa tubuh bahwa kita bersedia mendengarkan.

Sentuhan juga dapat menjadi bentuk dukungan, selama anak merasa nyaman. Pelukan, menggenggam tangan, atau sekadar duduk di samping anak dapat menjadi cara untuk menunjukkan, “Aku ada di sini.”

Namun, setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda. Ada anak yang merasa lebih nyaman dipeluk ketika sedih, sementara anak lainnya justru membutuhkan ruang terlebih dahulu. Karena itu, mengenali respons anak juga menjadi bagian penting dari proses validasi.

Tidak ada orang tua yang selalu bisa merespons dengan sempurna

Pada akhirnya, menerapkan validasi emosi bukan berarti kita harus menjadi orang tua yang selalu tenang, selalu sabar, dan selalu memiliki respons yang tepat.

Ada kalanya kita sedang lelah. Ada kalanya pekerjaan sedang banyak. Ada kalanya tangisan anak muncul di saat yang paling tidak tepat dan kita akhirnya ikut terbawa emosi.

Hal tersebut tidak membuat kita menjadi orang tua yang gagal.

Kalaupun kita terlanjur mengatakan, “Sudah, jangan nangis!” kita masih bisa memperbaiki situasi. Misalnya setelah lebih tenang, kita dapat mengatakan kepada anak, “Tadi Mama bilang kamu jangan nangis. Sebenarnya Mama tahu kamu memang lagi sedih. Mama tadi juga sedang capek. Kalau kamu masih mau cerita, sekarang Mama mau dengarkan.”

Momen seperti ini justru dapat menjadi pengalaman yang berharga bagi anak. Anak belajar bahwa hubungan tidak harus selalu sempurna. Ketika terjadi kesalahpahaman, kita dapat mengakuinya, meminta maaf, dan mencoba kembali.

Pengasuhan bukan tentang tidak pernah melakukan kesalahan. Pengasuhan adalah tentang terus membangun kembali koneksi ketika hubungan sempat terputus.

Comments

One response to “Validasi Emosi, Bukan Berarti Selalu Menuruti Anak”

  1. A WordPress Commenter Avatar

    Hi, this is a comment.
    To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
    Commenter avatars come from Gravatar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post